Friday, January 6, 2017

Ayah: sedikit renungan




Coba yang merasa menjadi ayah, ada sedikit renungan disela-sela kegiatan kantor dan mau istirahat..

Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya...
Dan melihat seorang istri mengantar suaminya sampai depan pagar rumahnya ...
"yah... beras sudah habis loh..." ujar istrinya.
Suaminya hanya tersenyum dan siap melangkah...
Namun langkahnya terhenti oleh panggilan anaknya dari dalam rumah...
"ayah... besok aku harus bayar uang praktek"

"iya..." jawab sang ayah...
Getir terdengar di telinga saya, apa lah lagi bagi lelaki itu...
Saya bisa menduga langkahnya semakin berat...

Ngomong - ngomong saya jadi teringat pesan  anak saya semalam, "besok belikan roti yaa ayah..."
Dan saya hanya menjawabnya dengan, "Insha Allah" ...
berharap anak saya tidak kecewa jika malam nanti tangan ini tak berjinjing makanan kesukaannya itu...

Banyak para Ayah yang setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi langkah mereka ke tempat kerja...
Keluhan istri semalam tentang uang belanja yang sudah habis...
Bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak bulan lalu...
Susu si kecil yang tertinggal di sendok terakhir...
Bayar tagihan listrik ...
Hutang di warung tetangga yang mulai sering mengganggu tidur...
Dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya terlamun...

Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat istrinya tersenyum...
Meyakinkan anak-anak nya tenang dengan satu kalimat "iyaa... nanti semua Ayah bereskan"...
Meski dadanya bergemuruh kencang...
Otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya...
Membereskan semua gundah yang ia genggam...

Maka sejarah pun berlangsung...

Banyak para ayah yang berakhir di tali gantungan, tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat lehernya...
Baginya tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi...
Sama - sama menjerat...
Bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat tidak perlahan-lahan...


Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi angka-angka, atau berbuat curang di balik meja teman sekerja...
Istri dan anak-anak nya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya, dari mana uang yang di dapat sang Ayah...
Halalkah...?????
Karena yang penting teredam sudah gundah hari itu...

Teramat banyak para istri dan anak-anak yang setia menunggu kepulangan Ayahnya, hingga larut dan yang ditunggu tak juga kembali...
Sementara jauh disana...
Lelaki yang istri dan anak-anak nya setia menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa, menahan sisa-sisa nafas terakhir, setelah dihajar massa yang geram karena aksi pencopetan yang dilakukannya...

Sekali lagi... ada yang rela menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan...

Sungguh...diantara sekian banyak Ayah itu,
Saya teramat salut dengan sebagian Ayah lain...
Yang tetap sabar mengenggam gundahnya...
Membawanya kembali kerumah...
Menyertakannya dalam Mimpi...
Mengadukannya dalam setiap sujud panjangnya di pertengahan malam...
Hingga membawanya kembali bersama pagi...
Berharap ada rezeki yang Allah berikan di hari itu, agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam...

Ayah yang ini masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba Nya berada di dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai...

Para Ayah ini lah yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa menciptakan gundah baru bagi keluarganya...

Dan saya...
Sebagai Ayah, akan tetap mengenggam gundah saya dengan senyuman...

Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum dan ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya...
Karena atas KUASA Nya sebagai Pengatur TAQDIR hamba-hamba Nya


Untuk para AYAH semoga selalu diberi kesabaran & kekuatan iman untuk selalu mencari rejeki yg berkah dijalanNYA...

 آمين يا رب العالمين.ْ .....




No comments:

Post a Comment

Dialog Allah Dengan Hambanya

💫Allah : "Hambaku, bangunlah ! Lakukan Shalat Malam 11 Rakaat !" Hamba : "Illahi, aku lelah, tidak sanggup rasanya.&quo...