Friday, January 19, 2018

Ibu... Jejak Memori yang tak akan Hilang



Di kesadaran, kita tahu bahwa ibu adalah sosok yang paling berjasa dalam hidup kita. Karena melalui dia (dan ayah) kita lahir ke dunia. Pada sebagian besar orang, ibu juga yang memberikan pengasuhan dan pendidikan awal. Sehingga tanpa berhitung pun kita tahu bahwa tak mungkin membalas semua jasa ibu kepada kita. Bahkan pun ketika kita sudah hidup mandiri terpisah dengan ibu, doa-doanya selalu dipanjatkan untuk kita, anak-anaknya.

Menariknya adalah, dalam ruang-ruang konsultasi/terapi, banyak masalah yang berakar dari luka masa lalu. Masa-masa balita, masa-masa di mana hubungan dan interaksi dengan ibu adalah yang paling intens. Ada memori yang menyenangkan bersama ibu, misalnya ketika ibu membelai, menyuapi makan, membersihkan luka saat kita jatuh, menyanyikan lagu untuk kita, membelikan es krim, memuji, mengajari bernyanyi, bahkan ketika ibu hanya memangku kita dan memandang kita sambil tersenyum.


Tapi, mungkin ada juga memori yang menyakitkan, misalnya, ketika ibu memarahi dengan bentakan yang keras, ekspresi wajah ibu yang kecewa karena kita menjatuhkan vas bunga cantik kesayangannya, tak acuh saat kita begitu ingin memperlihatkan gambar yang kita buat. Pertengkaran ibu dengan ayah, Bahkan pada beberapa orang, ada pula jejak memori pada tubuhnya, berupa cubitan ataupun pukulan saat ibu kehilangan sabar karena kebandelan kita.

Jejak memori mana yang lebih berbekas dalam ingatan kita?

Mereka yang bisa melihat ibu sebagai manusia biasa, pada akhirnya akan memaafkan kelemahan ibu dan berfokus pada kebaikan-kebaikan yang diterima dan dirasakannya.

Mereka yang menuntut ibunya berperan sebagai seorang super woman, akan menyimpan kekecewaan, karena ibu tidak bisa memberikan seluruh yang dia inginkan. Bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun kemudian rasa sakit itu masih terasa. Membuatnya iri pada kebahagiaan orang lain, Membuatnya selalu menyalahkan ibu atas setiap kegagalan yang dialaminya. Mereka yang masih terganjal dengan masa lalu akan "berjalan terpincang" karena luka batinnya.


Kebahagiaan adalah pilihan kita. Kebahagiaan bukan diakibatkan orang lain, tapi ditumbuhkan oleh diri sendiri. Maafkan mereka yang karena kelemahannya sebagai manusia meninggalkan jejak memori buruk dalam hidup kita. 
Pilihlah memori yang baik untuk kita kenang.




Dipersembahkan untuk semua perempuan,
Yang sudah menjadi ibu, baik ibu kandung, ibu tiri, ibu asuh, ibu guru, ibu angkat, ibu mertua dan juga tak lupa untuk para calon ibu.

Yeti Widiati S. 221214

No comments:

Post a Comment

Dialog Allah Dengan Hambanya

💫Allah : "Hambaku, bangunlah ! Lakukan Shalat Malam 11 Rakaat !" Hamba : "Illahi, aku lelah, tidak sanggup rasanya.&quo...